Pesan Dari Donggala Untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gempa bumi yang melanda pada hari jum'at (28/9) kemarin menyisakan duka yang sangat mendalam bagi warga Donggala bahkan Sigi Sulawesi Tengah. Gempa dengan kekuatan 7,4 SR berada 0,18 Lintang Selatan dan 119,85 Bujur Timur dengan kedalaman pusat gempa pada 10 Km. Bahkan gempa tersebut menimbukan Tsunami dengan tinggi gelombang lebih setengah meter hingga 3 meter. Jangan tanyakan apa saja kerugian dan dampak yang terjadi yang diakibatkan oleh bencana seperti gempa dan tsunami yang di Donggala. Ribuan nyawa melayang, gedung tinggi, fasilitas publik hingga psikis dan mental warga rusak. Saya tidak akan membahas dampak negatif yang terjadi dari bencana yang terjadi. Alam dengan sendirinya mencari keseimbangan. Hanya manusia saja yang terkadang terbawa emosi dan fikiran tak jernih mendugment bencana sebagai musibah.  Mari kita berfikir dan belajar dari gempa yang terjadi selama satu tahun ini terjadi. Mulai dari yang terjadi pada Banten dengan kekuatan 6,4 SR, gempa Lombok 6,4 SR hingga yang terjadi pada Donggala. Negara Indonesia termasuk daerah yang rawan akan terjadinya bencana gempa bumi, dikarenakan Letak Indonesia yang merupakan pertemuan tiga lempeng yaitu lempeng  Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia, menyebabkan hampir semua  wilayah Indonesia mempunyai resiko gempa tektonik tinggi  karena letaknya yang  demikian, Indonesia seakan-akan berada di dalam lingkaran api yang terus membara
Gempa Donggala seakan mematahkan teori perilaku gempa yang biasanya terjadi pada gempa-gempa sebelumnya. Ilmuan dunia bahkan tercengang atas tsunami yang terjadi akibat dampak gempa. Iya saya mempunyai pandangan yang tak dogmatis akan teori. Nyatanya teori hanya pendekatan empiris yang dibuat oleh manusia untuk mendekati seaktul mungkin. Tapi alam, selalu memberikan data apa adanya dan bahkan tak tentu. Bagiku gempa Donggala merupakan duka yang mendalam bagi warga Sulawesi Tengah, Tapi gempa Donggala adalah tugas bagi kaum ahli geologi, ahli konstruksi bangunan dan ahli penanggulangan bencana.
Mengapa aku katakan demikian. Iya seorang ahli geologi harus berfikir dan menemukan fakta-fakta baru tentang sesar yang belum kita temukan dan belum dikenali. Sekarang harus kita kaji dan melakukan pemetaan yang terbaru tentang sesar dan lempeng di bumi nusantara. Sampai saat ini kita hanya mempunyai peta gempa tahun 2012. Sudah terlampui 6 tahun dan banyak gempa yang terjadi di bumi pertiwi. Besaran harapan bagi saya, pemerintah melalui BMKG atau kementrian terkait melakukan update tentang peta gempa Indonesia.
Kedua ini adalah tugas seorang Insinyur bangunan. Ia sudah harus berinovasi untuk menyumbangkan buah pikirannya tentang bagaimana membangun sebuah konstruksi bangunan yang tahan gempa. Saat ini sosialisasi tentang bangunan tahan gempa hanya disosialisasikan melalui perusahaan konstruksi, dan tidak sampai ke warga. Padahal rumah lah yang banyak berdiri di tanah bumi pertiwi ini bukan fasilitas publik dan gedung perhotelan. 
Ketiga adalah tugas badan penanggulan bencana untuk mensosialisasikan mitigasi bencana. Sebuah bencana tidak bisa dihilangkan pun tak bisa dihindari. Bencana hanya bisa ditekan jumlah dampak kerugiannya. Baik melalui rekayasa teknologi, peringatan dini atau warning system, hingga yang terakhir yaitu memberikan pengetahuan tentang pelindungan diri ketika bencana itu terjadi. Duka Donggala adalah duka kita, tapi bencana Donggala adalah tugas ilmuan untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, untuk meminimalisir korban selanjutnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peluang Yang Dapat Dimanfaatkan DPR Atas Penembakan Salah Sasaran.